Site icon SITUSBERITA24

Bigorexia, Ketika Obsesi Otot Menjadi Gangguan Psikologis

Bigorexia

Bigorexia, Ketika Obsesi Otot Menjadi Gangguan Psikologis

Bigorexia Merupakan Sebuah Istilah Populer Untuk Kondisi Yang Secara Medis Di Kenal Sebagai Muscle Dysmorphia. Gangguan ini merupakan bagian dari body dysmorphic disorder (BDD), yaitu gangguan mental yang membuat seseorang memiliki persepsi keliru terhadap bentuk tubuhnya. Pada bigorexia, seseorang merasa tubuhnya kurang berotot atau terlalu kecil, meskipun secara fisik ia sudah memiliki tubuh yang berotot dan atletis.

Bigorexia sering di alami oleh pria, terutama mereka yang aktif di dunia kebugaran atau binaraga. Namun, perempuan juga bisa mengalaminya. Bigorexia bukan sekadar keinginan untuk tampil lebih bugar, melainkan obsesi yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, baik secara sosial, emosional, maupun fisik.

Penyebab Bigorexia dan Faktor Risiko

Bigorexia tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat memicu kondisi ini, di antaranya tekanan sosial dan standar kecantikan atau ketampanan yang tidak realistis. Media sosial dan industri hiburan kerap menampilkan tubuh berotot sebagai simbol maskulinitas dan kesuksesan, sehingga banyak orang merasa harus memenuhi standar tersebut.

Faktor psikologis juga berperan besar. Rasa tidak percaya diri, pengalaman bullying terkait bentuk tubuh, atau trauma masa lalu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami muscle dysmorphia. Selain itu, lingkungan pergaulan yang sangat fokus pada penampilan fisik, seperti komunitas gym tertentu, juga bisa memperkuat obsesi terhadap ukuran otot.

Gejala yang Perlu Di Waspadai

Seseorang yang mengalami bigorexia biasanya menunjukkan beberapa tanda khas. Mereka sering merasa tubuhnya tidak cukup besar atau tidak cukup berotot, meskipun orang lain melihatnya sudah ideal atau bahkan sangat berotot. Perasaan ini bisa memicu kecemasan berlebihan.

Penderita bigorexia cenderung menghabiskan waktu berjam-jam di gym setiap hari dan merasa bersalah atau cemas jika melewatkan satu sesi latihan. Mereka juga bisa menjadi sangat ketat dalam pola makan, menghindari kegiatan sosial yang mengganggu jadwal latihan atau diet.

Dalam beberapa kasus, obsesi ini dapat mendorong penggunaan suplemen berlebihan bahkan steroid anabolik demi mempercepat pertumbuhan otot. Penggunaan zat tersebut tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan efek samping serius, mulai dari gangguan hormon hingga masalah jantung.

Dampak Terhadap Kehidupan

Bigorexia dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Secara sosial, penderita mungkin menarik diri dari lingkungan karena merasa tubuhnya belum cukup baik untuk tampil di depan umum. Mereka bisa menolak undangan acara keluarga atau pertemanan karena khawatir melewatkan jadwal latihan atau tidak bisa menjaga pola makan.

Secara emosional, kondisi ini sering disertai kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri. Ironisnya, meskipun mereka berusaha keras membentuk tubuh ideal, kepuasan jarang tercapai. Standar yang terus meningkat membuat mereka merasa tidak pernah cukup.

Dari sisi fisik, latihan berlebihan tanpa waktu istirahat yang cukup dapat menyebabkan cedera otot, kelelahan kronis, hingga gangguan metabolisme. Jika ditambah penggunaan zat tertentu, risiko kesehatan bisa semakin besar.

Cara Mengatasi Bigorexia

Penanganan bigorexia memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Terapi psikologis, terutama cognitive behavioral therapy (CBT), terbukti efektif membantu penderita mengubah pola pikir negatif tentang tubuh mereka. Terapi ini membantu individu mengenali distorsi persepsi dan membangun citra tubuh yang lebih realistis.

Dukungan keluarga dan teman juga sangat penting. Lingkungan yang menerima dan tidak menghakimi dapat membantu proses pemulihan. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat untuk mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang menyertai.

Penting untuk memahami bahwa menjaga kebugaran adalah hal positif, tetapi ketika tujuan tersebut berubah menjadi obsesi yang merugikan, bantuan profesional sangat dianjurkan.

Bigorexia adalah gangguan psikologis serius yang sering tersembunyi di balik gaya hidup sehat dan tubuh atletis. Di tengah maraknya tren kebugaran dan tekanan media sosial, kesadaran tentang kondisi ini perlu ditingkatkan. Memiliki tubuh sehat dan kuat memang baik, tetapi kesehatan mental tetap harus menjadi prioritas utama.

Exit mobile version