Site icon SITUSBERITA24

Trump Caplok Greenland Membuat Muncul Gerakan Jual Saham

Trump Caplok Greenland Membuat Muncul Gerakan Jual Saham

Trump Caplok Greenland bikin pasar panik, memicu gerakan jual saham dan pelemahan dolar, investor mulai tinggalkan aset Amerika

Trump Caplok Greenland bikin pasar panik, memicu gerakan jual saham dan pelemahan dolar, investor mulai tinggalkan aset Amerika. Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk “mencaplok” Greenland kembali memicu kegelisahan pasar global. Sentimen negatif tidak hanya muncul dalam bentuk kritik diplomatik dari negara-negara Eropa, tetapi juga mulai terlihat di pasar keuangan melalui munculnya gerakan yang disebut investor sebagai “Sell America” atau aksi jual aset Amerika.

Fenomena ini menguat setelah Trump secara terbuka menyatakan ambisi untuk menguasai Greenland, wilayah semi-otonom Denmark yang di kenal kaya mineral dan di anggap strategis secara militer. Trump bahkan di sebut siap menjatuhkan tarif tambahan kepada negara Uni Eropa apabila rencana tersebut di tolak atau di hambat.

Langkah tersebut membuat sebagian investor asing meningkatkan kewaspadaan karena kebijakan politik AS di nilai kembali bergerak menuju ketidakpastian tinggi. Kondisi inilah yang mendorong munculnya aksi jual saham, obligasi pemerintah AS, hingga pelemahan dolar.

Trump Caplok Greenland: Gerakan “Sell America” Mulai Terlihat

Menurut laporan yang mengutip Reuters, rencana kontroversial Trump mengenai Greenland memunculkan kekhawatiran baru di pasar. Investor asing mulai melepas aset-aset keuangan AS, baik saham maupun surat utang pemerintah (Treasury), sebagai respons atas meningkatnya tensi geopolitik dan potensi perang dagang. Trump Caplok Greenland: Gerakan “Sell America” Mulai Terlihat.

Gejala awalnya terlihat dari indeks dolar AS yang melemah. Dolar turun sekitar 0,1%, mencerminkan kekhawatiran bahwa arus dana global mulai mencari alternatif di luar aset berbasis dolar.

Market Analyst IG, Tony Sycamore, menyebut kekhawatiran pasar di picu kombinasi faktor, termasuk ketidakpastian geopolitik yang berlangsung panjang, hilangnya kepercayaan investor terhadap arah kepemimpinan AS, serta percepatan tren dedolarisasi di sejumlah negara.

Sycamore menilai meskipun ada harapan pemerintahan AS dapat meredakan tekanan seperti kasus tarif sebelumnya, rencana penguasaan Greenland justru di pandang sebagai misi strategis yang terus di dorong sehingga memperbesar ketegangan.

Dampaknya ke Pasar Obligasi dan Saham

Aksi jual tidak berhenti pada dolar. Investor juga mulai memperhatikan pergerakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun yang berada di kisaran 4,2586%, mencerminkan kondisi pasar obligasi yang sensitif terhadap gejolak politik.

Dalam situasi seperti ini, pasar biasanya menilai ketidakpastian kebijakan pemerintah sebagai risiko. Jika risiko meningkat, investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi, atau bahkan memindahkan dana ke instrumen lain.

Gerakan ini juga memunculkan efek domino terhadap saham-saham di berbagai bursa. Beberapa analis menilai ketegangan Greenland bukan sekadar isu wilayah, melainkan bisa menjadi pintu masuk konflik geopolitik yang lebih besar di kawasan Arktik—wilayah yang kini di perebutkan pengaruh oleh banyak kekuatan dunia.

Pernah Terjadi Sebelumnya

Fenomena “Sell America” bukan pertama kali muncul di era kebijakan Trump. Gerakan serupa sempat terlihat pada April tahun lalu, ketika Trump mengumumkan tarif impor baru terhadap puluhan negara. Saat itu, pasar mencatat penurunan signifikan pada saham, obligasi, serta dolar AS. Pernah Terjadi Sebelumnya.

Kondisi tersebut menandakan bahwa pasar sangat sensitif terhadap kebijakan proteksionisme atau keputusan politik yang berpotensi memicu ketegangan ekonomi global.

Greenland: Isu Politik yang Mengguncang Keuangan Dunia

Pengamat menilai Greenland kini menjadi simbol bagaimana konflik politik dapat langsung berdampak ke dunia finansial. Ketika investor melihat potensi konflik meningkat—baik karena ancaman tarif, retorika perang dagang, maupun persoalan ekspansi wilayah—reaksi pasar biasanya cepat: dana bergerak ke aset aman, meninggalkan aset berisiko.

Jika ketegangan ini berlanjut, maka volatilitas bisa meningkat di berbagai instrumen: mulai dari dolar, obligasi AS, hingga pasar saham global. Dalam kondisi demikian, pasar di prediksi masih akan “menghitung ulang” risiko investasi di Amerika dalam beberapa pekan ke depan.

Exit mobile version